Wakatobi Pusat Penelitian Bawah Laut Dunia
(05-12-2008) -
Wakatobi – Kekayaan keragaman hayati atau biodiversity terumbu karang di kawasan Taman Nasional Wakatobi,
Sulawesi Tenggara, bukan cuma menarik untuk kepentingan pariwisata, melainkan juga ilmu pengetahuan dan
penelitian. Bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama di Eropa, Pemerintah Kabupaten Wakatobi akan
menjadikan Taman Nasional Wakatobi sebagai pusat keunggulan dunia untuk penelitian bawah laut.
”Proses pembangunan pusat keunggulan penelitian bawah laut dunia itu sedang dalam persiapan,” kata
Hugua, Bupati Wakatobi, di Wangi-wangi, Wakatobi, Kamis (4/12).
Hugua menyebutkan, Wakatobi layak mengklaim sebagai surga nyata bawah laut di jantung segitiga terumbu karang
dunia yang meliputi enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Niugini, Pulau Solomon, dan Timor Leste.
Taman Nasional Wakatobi memiliki 750 jenis terumbu karang dari 850 jenis terumbu karang di dunia.
”Dari tiga pusat penyelaman kelas dunia, Wakatobi lebih unggul dan menakjubkan. Ini sudah diakui dunia. Karibia
hanya punya 50 jenis terumbu karang, sedangkan Laut Merah (Mesir) punya 300 jenis terumbu karang,” jelas
Hugua.
Selama ini, peneliti dari sejumlah negara datang ke Wakatobi untuk meneliti biodiversity bawah laut. Bahkan, pada 2009
ratusan peneliti dunia akan mengadakan pertemuan untuk presentasi soal kajian bawah laut di Wakatobi.
Sebagai tahap awal, kata Hugua, Pemkab Wakatobi menyiapkan bangunan di Pulau Hoga untuk menjadi laboratorium
lahan basah (wetland laboratorium) pada 2009. Untuk sumber energi, dikembangkan dari tenaga air, angin, atau
matahari.
Veda Santiaji, Project Leader Joint Program The Nature Conservancy-WWF untuk Taman Nasional Wakatobi,
mengatakan sumber daya alam di Wakatobi sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai laboratorium alam yang
luar biasa. WWF mengidentifikasi delapan sumber daya alam yang penting di Taman Nasional Wakatobi.
Sumber daya alam di Wakatobi itu meliputi terumbu karang, mangrove, lamun atau padang rumput laut (sea grass),
daerah pemijahan ikan, mamalia laut, burung-burung migrasi, peneluran penyu, dan ikan-ikan pesisir. ”Tetapi
yang penting, Pemkab Wakatobi harus tegas soal zonasi wilayah yang sudah disepakati,” kata Veda.
Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/05/00381710/wakatobi.pusat.penelitian.bawah.laut.dunia
http:/
{9 Desember 2008}